Mulai tanggal 1 oktober 2011 kemarin PT Kereta Api (KA) Indonesia meniadakan tiket berdiri atau tiket tanpa tempat duduk untuk kelas ekonomi. Padahal kereta api ekonomi adalah transportasi yang paling terjangkau untuk masyarakat menengah ke bawah, terutama untuk perjalanan jarak jauh. Sebelumnya, satu gerbong kereta api dapat memuat sekitar 159 orang. Sepertiga dari 159 orang tersebut adalah tiket berdiri.
Dengan adanya kebijakan baru tersebut di harapkan dapat menambah kenyamanan penumpang karena tidak perlu berdiri ataupun tidur di lantai gerbong selama perjalanan. Disisi lain kapasitas penumpang jadi menurun drastis sehingga banyak calon penumpang yang tidak kebagian tiket. Karena terbatasnya tiket maka banyak calo-calo tiket yang bermunculan. Mereka menjual tiket dengan harga yang sangat mahal.
Berdasarkan pengalaman saya, calo bekerja sebagai tim, yaitu:
1.Pencari tiket
Bertugas mencari tiket sebanyak-banyaknya. Dia akan membeli tiket di loket atau dengan menyuruh orang lain untuk membelikan tiket untuknya. Karen kalau dia membeli tiket dengan jumlah yang banyak maka akan dicurigai oleh petugas. Calo bisa mendapatkan 50 lembar tiket atau lebih untuk setiap keberangkatan kereta. Dan menjual tiket itu kembali kepada korban dengan harga 2X lipat bahkan lebih. Apabila tiket yang mereka beli tidak laku, mereka bisa menukarkan tiket tersebut dengan uang sebelum kereta berangkat sejumlah 75% dari harga tiket.
2.Pencari korban
Setiap ada calon penumpang yang keluar dari stasiun, dia akan bertanya tentang tujuan orang tersebut.
Calo : “Mau kemana mas?”
Mas Bowo’ : “Saya mau ke jakarta bung, tapi tiketnya sudah habis ternyata”
Calo : “kalau mau beli di calo ada mas, tapi harganya agak mahal sih. Gimana?”
Adegan selanjutnya jika si calon korban tertarik, maka akan langsung dipertemukan kepada penjual tiket.
2.Penjual tiket
Pada waktu itu saya memang terpaksa membeli tiket di calo karena teman-teman saya bersikeras pengen naik kereta api, walaupun sudah saya sarankan naik bis saja. Maklum bung, mereka cewek jadi bagaimanapun tetap saya usahakan.
Penjual dan pencari tiket bisa jadi orang yang sama, namun yang pasti penjual tiket adalah orang yang paling pintar melakukan penawaran terhadap korban.
Terbukti saat saya melakukan penawaran ‘mati-matian’, dia langsung ‘cuek’ pergi meninggalkan saya dengan pura-pura ‘sok sibuk’. Setelah itu dia kembali lagi untuk menanyakan jadi atau tidak. Setelah saya tawar lagi, dia pura-pura sibuk lagi tanpa menurunkan harga sedikitpun. Seakan-akan dia tidak butuh duit.
“Harga mati mas, gak bisa ditawar lagi.” dia berkata dengan sombongnya.Kesal juga saya melihat tingkahnya, setelah itu saya pura-pura pergi dan tidak jadi membeli sambil makan di warung angkringan dekat stasiun. Kemudian akhirnya dia yang datang menemui saya dan menyetujui harga yang saya tawarkan.
Penjual angkringan : “habis beli tiket di calo ya mas? Kena tipu berapa?”
Mas Bowo' : "aaaaaaaaaaaaaaaaaaaargh"
"Bukan masalah uang sih, tapi entah kenapa rasanya seperti habis kena tipu ratusan juta. Sungguh ku tak rela, tak pernah rela melepaskanmu untuk calo jahanam.."
pesan moral:
jangan pernah berhubungan dengan calo.
jangan coba-coba menangkap mereka sendirian, mereka punya sindikat.
bagi yang mau naik kereta ekonomi, belilah tiket pagi hari pada saat 7 hari sebelum keberangkatan (H-7).
Kalau tidak sempat membeli, mintalah tolong pada teman atau pun saudara untuk membelikan anda tiket.
semoga bermanfaat






